Archive for July, 2005

Tukang Jualan

Saturday, July 30th, 2005

Jakarta, 29 Juli 2005

Gerobak01 Ingat sama tukang bubur waktu kita sekolah dulu? Juga tukang lainnya yang jualan somay, mie ayam, es sirop, dan batagor? Mereka yang kita jumpai hampir tiap hari di sekolah atau dekat rumah sewaktu kita masih SD dulu. Mereka yang bahkan sudah berdagang di sana jauh sebelum kita masuk kelas satu.

Nah, pernah kah bertemu mereka kembali? Ada kah yang berubah? Ya tentu saja ada. Paling tidak usia mereka, jelas bertambah.

Tapi keseluruhan pandangan kita mungkin saja tidak banyak yang berubah. Mereka masih saja berjualan dengan gerobak. Mas Joko tetep jualan bubur. Mang Tompel masih udak-aduk mie ayamnya. Bang Sam tetep motong-motong ketupat. Dan semuanya masih pake gerobak. Tetep begitu selama puluhan tahun.

Bukan cuma jualannya yang sama, tampang mereka pun rasanya masih tampang yang sama seperti puluhan tahun lalu kita jumpai. Mereka seperti prasasti hidup kenangan kita. Tokoh pembicaraan yang mudah untuk memulai cerita nostalgia masa sekolah. Padahal waktu telah berjalan panjang. Yang memberi kita pahit manisnya hidup. Yang merubah prinsip, pola pikir dan bentuk fisik kita. Tapi melihat mereka, dunia ini rasanya ajeg.

Kenapa mereka tak berpikir pindah profesi? Paling tidak, ganti jualannya?

Namun kata saya, mereka setia dan sederhana dalam hidup. "Yang penting bisa makan dan halal", sungguh bukan prinsip yang basabasi.

Gerobak02 Pengalaman saya tadi pagi dengan mereka membuat saya lebih respek. Sekeluar pagar rumah untuk pergi ke kantor, saya mendapati tukang ‘kue cubit’ yang berjualan depan puskesmas yang saya lewati. Kami saling pandang, dan ia duluan melambaikan tangannya pada saya. Ia memang tukang ‘kue cubit’ sejak saya sekolah dasar. Usai balas melambai, datanglah tukang batagor dari arah berlawanan. Sekilas kulihat mukanya. Yah, saya rasa ia tidak banyak berubah. Kumisnya dan rambut ikalnya, masih begitu dari dulu. Jarak kami semakin pendek. Semakin dekat berpapasan. Saat hati mulai memutuskan untuk terus melihat ke arah depan, sang tukang pun tersenyum. Mata saya tak kuasa berpaling. Tak sempat lagi lepas dari perkembangan situasi, ia pun menegur ku pendek.

"Bud….", sapanya pendek. Tidak ragu.

"O, ya, Pak. Mariii…", jawabku spontan, tak siap.

Sungguh tak mengira ia tau nama saya. Ia memang tukang yang saya tau sejak kecil dulu. Tapi saya yakin kita tidak banyak saling kenal.

Tapi ia memberiku rasa hormat yang mudah, namun sulit buat kebanyakan orang. Memanggil nama.

DASAR BUABI…

Sunday, July 24th, 2005

Jakarta, 24 July 2005

Pig03_1   Minggu siang di tangerang, seratusan babi dibakar untuk hindari penyebaran virus flu burung. Ini moment menarik. Bukan karena ada ratusan ternak yg dibakar. Tapi karena disitu ada babi-babi. Jarang banget gw liat langsung muke si haram yg satu ini. Bahkan hampir gak pernah. Kepala babi yang dipajang di restoran-restoran Bali pernah gw liat. Tapi itu kan udah jadi makanan. Sempet juga liat orang Nias menggedong-gendong "ikan lauk" kesukaannya Obelix gendut itu. Tapi itu juga cuma babi kecil.

Nah, kali ini gw datang kesempatan bagus. Mumpung lagi ada di peternakan babi, pandangan gw puas-puasin. Pig_1

Sejauh mata memandang, babi dimana-mana. Masih hidup, segar,  berwarna merah jambu, dan gendut-gendut karena tak diet. Biar ada anak yang bilang imut, babi tetep aja babi. Kotorannya dimana-mana. Baunya jangan tanya. Kalo tidur juga suka kagak sopan. Suka sembarangan.  Pig04Tuh liat si induk yang beratnya sekuintal lebih, tidurnya diatas taik-nya sendiri. Cis!! Teteknya pating kleweran. Pas dihitung, pentilnya ada delapan! Jis, pantes anaknya buanyaaak.

Dasar buabiiii!!

Soal jorok, babi emang juaranya. Taik orang juga diembat. Ini pengalaman geblek dari seorang kawan yang belum lama ke Mentawai. Karena darurat, sikon memaksa ia buang hajat di pasir. Mendadak ada babi yang mencium aroma limbah si kawan. Setelah menemukan lokasi, sang babi langsung aja nyosor menghampiri empunya limbah yang jongkok gemeteran.

Gemetaran krn konsentrasi buang hajat pun terganggu. Satu tangan pegang celana, satu tangan lagi mengumpulkan kerikil untuk menyambit si haram jadah itu. Husss…husss, pergi, pergi.

Dasar buabiiiii !!Pig02

semifiksi “sok kyut”

Sunday, July 24th, 2005

S ungguh,

itu bukan ‘approach’ yang ‘impressive’ yang pernah ku lihat. Kenapa juga gayanya mesti begitu. Sok asik, sok deket.

Lihat saja. Dengan entengnya perempuan itu menyapa teman ku yg juga seniornya. Wajahnya (yg dibuat) sumringah..ngah..ngah!

“Hai, mas! Bole minta makanannya?”

Dasar anak baru, bener2 baru kelar jadi anak sekolahan. Ini kan kantor! Dia mau jadi jurnalis spt kita disini rupanya?

Senyumnya udah yang paling lebaaarr. Kalah lebar deh panggung kampanye capres.

Suaranya diolah sedemikian rupa, seakan-akan itu suara anak kecil imut. Huh…kemana aja masa kecilmu? Masak udah gede gini baru keluar suara anak-anak nya.

Perawakan dia memang kecil. Tapi gak usah dibuat sok ‘cute’ gitu dong.

Lihat saja.Kaos hitamnya yang ‘ketit’, berpadu dengan ransel merah, kontras dengan kulitnya yg juga putih.

Anime_kuncir
Rambut pendeknya dikuncir ekor kuda. Kalo lagi menghampiri sang senior, langkahnya pun langkah kuda. Huh, situ oke?!

Lihat gayanya.

Gaya anak sok imut.

Brace
Dimana-dimana, gaya anak sok imut emang begitu.Ditambah simbol pop nya saat ini : pake kawat gigi. pokoke sok kyutkyut. tapi gimana yaah……kamu memang manis sih*****

sepi…

Saturday, July 23rd, 2005

Anime01_1

Jakarta, 23 Juli 2005

Selalu ada seratusan kawan untuk bercengkerama. seratusan lainnya menunggu ajakan sukaria. seratusan mainan menghibur tak henti-hentinya. menyusul seratusan kerjaan yang buat mata nan letih tidak terpejam. seratusan pikiran ini itu yang tak tau lagi mana yang harus didahulukan.

seratusan pujian, seratusan kompetisi, seratusan peristiwa, yang membuat diri gelisah, emosional, sensitif, bergairah, tersenyum, mengakak,……menangis.

Anime02_1
mestinya cukup satu saja.

cukup satu saja yang paling dari seratusan itu. cukup satu saja yang menghiburku, memujiku, memarahiku, menasehatiku. cukup satu itu saja yang ku idam.

karena yang satu itu akan lebih berarti,

Hati_1

buat hati yang sepi.

24 HOURS FLOOR

Friday, July 22nd, 2005

Jakarta, 18 Juli 2005

Sok_ngetik_1

Lantai tiga news, lantai 24 jam. Gak ada matinya. Mereka yang masih melek, gak mesti lagi kerja. Biasanya nongkrong di depan PC. Internet jadi nyawa ruangan ini. Dan friendster adalah bintangnya setahun terakhir. Pesaingnya bisa jadi cuma pemutar mp3 yang terpasang di semua PC. Keduanya tak kehabisan penggemar dari pagi sampai pagi.

Pingpong_kartun
Tapi ada yang baru hampir sebulan ini.  Dia adalah meja pingpong yang gak kalah gila penggemarnya. Para lelaki setia penghuni terakhir, makin malas aja pulang ke rumah.

Dan sekarang sudah jauh lewat tengah malam. Saya msh di depan PC, ….lagi asik berkelana di dunia maya. Pastinya sambil denger musik via mp3.

Rage

Bukan….bukan denger tembang terbaru Padi atawa balada milik U2. Melainkan musik cadas dari "System of a Down" dan "Rage against the machine". Kaya ada gairah lain aja, saat denger musik mrk. Sampai lupa sesuatu.

System_of_a_down

Lupa kalo udah empat hari belum pulang ke rumah! Dasar jomblo!

Mom, I’m coming home tomorrow…