Tukang Jualan

Jakarta, 29 Juli 2005

Gerobak01 Ingat sama tukang bubur waktu kita sekolah dulu? Juga tukang lainnya yang jualan somay, mie ayam, es sirop, dan batagor? Mereka yang kita jumpai hampir tiap hari di sekolah atau dekat rumah sewaktu kita masih SD dulu. Mereka yang bahkan sudah berdagang di sana jauh sebelum kita masuk kelas satu.

Nah, pernah kah bertemu mereka kembali? Ada kah yang berubah? Ya tentu saja ada. Paling tidak usia mereka, jelas bertambah.

Tapi keseluruhan pandangan kita mungkin saja tidak banyak yang berubah. Mereka masih saja berjualan dengan gerobak. Mas Joko tetep jualan bubur. Mang Tompel masih udak-aduk mie ayamnya. Bang Sam tetep motong-motong ketupat. Dan semuanya masih pake gerobak. Tetep begitu selama puluhan tahun.

Bukan cuma jualannya yang sama, tampang mereka pun rasanya masih tampang yang sama seperti puluhan tahun lalu kita jumpai. Mereka seperti prasasti hidup kenangan kita. Tokoh pembicaraan yang mudah untuk memulai cerita nostalgia masa sekolah. Padahal waktu telah berjalan panjang. Yang memberi kita pahit manisnya hidup. Yang merubah prinsip, pola pikir dan bentuk fisik kita. Tapi melihat mereka, dunia ini rasanya ajeg.

Kenapa mereka tak berpikir pindah profesi? Paling tidak, ganti jualannya?

Namun kata saya, mereka setia dan sederhana dalam hidup. "Yang penting bisa makan dan halal", sungguh bukan prinsip yang basabasi.

Gerobak02 Pengalaman saya tadi pagi dengan mereka membuat saya lebih respek. Sekeluar pagar rumah untuk pergi ke kantor, saya mendapati tukang ‘kue cubit’ yang berjualan depan puskesmas yang saya lewati. Kami saling pandang, dan ia duluan melambaikan tangannya pada saya. Ia memang tukang ‘kue cubit’ sejak saya sekolah dasar. Usai balas melambai, datanglah tukang batagor dari arah berlawanan. Sekilas kulihat mukanya. Yah, saya rasa ia tidak banyak berubah. Kumisnya dan rambut ikalnya, masih begitu dari dulu. Jarak kami semakin pendek. Semakin dekat berpapasan. Saat hati mulai memutuskan untuk terus melihat ke arah depan, sang tukang pun tersenyum. Mata saya tak kuasa berpaling. Tak sempat lagi lepas dari perkembangan situasi, ia pun menegur ku pendek.

"Bud….", sapanya pendek. Tidak ragu.

"O, ya, Pak. Mariii…", jawabku spontan, tak siap.

Sungguh tak mengira ia tau nama saya. Ia memang tukang yang saya tau sejak kecil dulu. Tapi saya yakin kita tidak banyak saling kenal.

Tapi ia memberiku rasa hormat yang mudah, namun sulit buat kebanyakan orang. Memanggil nama.

4 Responses to “Tukang Jualan”

  1. Fitri Says:

    Elo suka ngutang sih Budi..terang aja inget…heheh. Mungkin tadi itu dia manggil mau nanya elo udh bisa bayar blon..qeqeqe :D

  2. rien Says:

    manggil nama… maksudnya nama beneran ato nick name as’you know what’?

  3. simplySITA Says:

    mas Budi! *memanggil nama* hihihihi..

  4. Diah Says:

    emang Bang Sam masih jualan?

Leave a Reply