Archive for August, 2005

SUPIR TAXI

Friday, August 26th, 2005

Jakarta, 26 Agustus 2005

Namanya Hidayat. Umurnya kira-kira tigapuluhan.
Hari ini  aku naik taxinya menuju ke kantor.
Orangnya lumayan suka ngobrol. Berawal gara-gara taxi nya nyaris nabrak pengendara sepeda yang berhenti mendadak sewaktu menikung ke arah kuningan dari jalan diponegoro. Untungnya sempet ngeles ke kanan, padahal dikanan itu sdh ada mobil lain.

Kemudian mulailah ia bercerita. Padahal aku ngantuk sekali. Pengennya tidur aja sebelum tiba di kantor. Tapi ceritanya lumayan serem.

     Rotten               

Soal kecelakaan lalu lintas yang sering terjadi di Cilincing, Jakarta Utara, wilayah tempat dia tinggal. Korban tewas yang dia ceritakan betul-betul mengenaskan. Kepala putus, lah, suami istri yang dilindes ban lah, usus terburai lah, macem-macem deh. Pernah liat situs Rotten.com? Begitulah kira-kira keadaan korban yang tewas.

Kebanyakan kisahnya seputar orang atau pengendara sepedamotor versus truk kontainer. Truk besar begitu emang banyak sekali di daerah cilincing. Tapi katanya, yang meninggal karena kelindas truk kontainer sering banget, hampir tiap kali katanya.
Aku sendiri setengah percaya. Apa ia sesering itu? Bisa saja itu ceritanya yang hiperbolis. Khas supir angkutan.

Truck_container_2Truk_kontainerTapi diantara cerita itu, aku suka ketawa ketiwi.
Bukan karena ceritanya ada yang lucu. Tapi logatnya itu loh. Pantura banget.
Apalagi kalo udah mendiskripsikan luka korban, dan reaksi orang-orang . Bletak bletuk, ngapak ngapak!
Bukan bermaksud sara, karena ibu ku juga dari kebumen.
Tapi saking  gelinya, ditengah-tengah ia cerita, aku langsung menyela, dan bertanya darimana asalnya.
Hidayat bilang ia dari Indramayu.
Meleset sedikit, tebakan ku dari Tegal.

Yaa Indramayu, Tegal pada bae!, ngapaknya pantura, jan!

Kantuk pun hilang, mendengar cerita sadis yang keluar dari celotehan yang dibalut dalam logat khas pelawak Cholik Pelita Grup (inget ? ). Lumayan menghibur.
Sadis sekaligus kocak.

Kontradiktif, hehehe.

Gak punya hati

Friday, August 26th, 2005

Jakarta, 25 Agustus 2005

Trotoar sebelah Pusat Kebudayaan India di perempatan ujung jalan
menteng dan rasuna said ini memang selalu ramai penunggu bus di waktu
sore.
Tapi Ibu muda depan ku ini cuek saja duduk di atas trotoar. Kakinya dijulurkan ke atas aspal. Sama sekali tak pedulikan pandangan orang-orang  di belakangnya.
Dia bukannya gak waras. Dia pengemis, gembel.
Tapi melihat dirinya, tak ada rasa simpati sedikitpun yang keluar.
Lihat saja. Dia muda, dan kuyakin masih kuat untuk terima cucian buat dapetin uang upah nyuci.
Dan itu liat, anak perempuannya kelayapan hilir mudik di atas trotoar sambil bawa sebatang rokok buat emaknya, si ibu muda itu. Umur nya paling tiga tahun. Tapi emang udah pinter diri. Tapi bukan berarti bisa disuruh-suruh kayak kacung , bukan?

"Nah sini, sini!! Bawain sini itu rokoknyaaaa!" suaranya cempreng, menyebalkan.
"Nah gituuu, pinterrr banget anak gua ini yak !!" bangga banget. Gak jelas, bangga sama anaknya yang bisa bawain dia rokok atau bangga sama dirinya krn perintahnya sukses.

Kuliat para penunggu bus yang lain, juga sedang memperhatikan tingkah si ibu muda gembel itu. Gila banget ini ibu dalam hatiku. 
("Itu kan anak loe!
Bukan anjing peliaraan!
Bukan kacung kudis kurap!
Itu anak masih kecil umur tiga tahun, perempuan edan!!)
umpat ku membatin.

Jadi kenapa harus takut mengumpat dia , walau cuma dalam hati?
Karena rasa simpati pun jauh dari pantas buat dia.
Ibu tak punya hati!
Apa menjadi miskin boleh tak punya hati?
Apa hidup di jalanan boleh selalu  menjadi barbar?

Yang betul, orang barbar macam dia kalo mati masuk neraka. 

Istana Merdeka

Friday, August 19th, 2005

Jakarta, 16 Agustus 2005

IstanaHari ini Istana Merdeka sebuk skale’. Maklum saja, esok harinya adalah perayaan sakral tujuh belasan. Tahun ini Indonesia genap enampuluh tahun.

Besok komplek istana bakal kedatangan bejibun undangan penting. Nah,  ini hari terakhir persiapan buat acara esok. Semua yang terlibat dalam solek menyolek istana hilir mudik. Ada tukang kembang, tukang sewa tenda kursi, jasa katering, petugas kebersihan, grup kesenian daerah, pasukan marching band, termasuk kita para kuli broadcast,  yang berebut tempat bagus buat menyiarkan langsung upacara besok pagi.

PaspampresPaspampres dibuat pusing,  penjagaan  pun semakin ketit  (superlative dari ketat). Dengan  banyak macem orang  diatas plus  pe-nekat-pe-nekat yang spekulatif coba masuk komplek istana dengan jeans, atau tanpa id, bisa dimaklumi kalo muke mereka bak ‘dunia lain’ (maksudnya angker gicu..). Lebih-lebih, sang presiden juga bertempat tinggal di komplek istana. Itu berarti keamanan beliau nomor satu. ‘Keamanan’ means akses orang lain terbatas. Artinya, mau narik kabel kek, mau pasang tripod, kek kudu bilang dulu sama tiap personil paspampres yang kita temui. Maklum aja, banyak daerah yang kudu steril (berkaitan dengan keamanan presiden) dan daerah yang sakral (berkaitan ama apa ya ini? ‘dunia lain’? bukan kale!).

Soal daerah sakral, gerbang depan istana adalah salah satunya. Gerbang itu selalu dalam posisi tertutup. Tapi bagaimana kalo  kita mau tarik kabel  dari dalam halaman istana ke kamera yang jaraknya cuma berapa centi diluar pager?  Gerbang sakral itu  bukan  cuma jalan paling  pintas, tapi juga paling logis.
"Wah, mas tanyakan saja langsung ke komandan saya. Tu..yang disana." perintah sang paspampres sambil menunjuk komandannya yang berjarak 50 meter.

"Selamat siang, Pak. Ini…kami mau tarik kabel keluar. Tapi paling deket lewat gerbang depan itu tu, Pak. Bole gak kami izin,  buka sebentar gerbangnya?" dengan suara pelan namun jelas, sekaligus cemas.
"Wah, jangan lewat disitu, dik. Itu gerbang ditutup.
Adik bisa jalan memutar ke arah sana…."

Sambil  tangannya menunjuk ke suatu arah, dekat gerbang yang kami maksud.
Bersamaan dengan itu, di depan kami ada pemandangan sebagai berikut, dimana salah satu camera person kita berjalan dengan pasti menghampiri gerbang, sambil tangan kanannya menenteng untaian kabel yang sudah terjulur panjang dari pusatnya. Tenang dan pasti, tanpa peduli dengan keselamatan jiwa dan rasa malu teman-teman lainnya, ia pun membuka gerbang sakral itu, keluar, dan menutupnya kembali. Ringan sekali, bak bayi tanpa dosa.

"…Atau bisa lewat……." kata sang komandan tertahan sambil melihat apa yang dilakukan si jagoan berani mati itu.
"….yaaa lewat situ juga bisa. Itu gerbangnya gak  dikunci, kan?"
(GEDUBRAAAKK..!!!)

Selain itu ada satu yang aneh dengan persiapan tujuhbelasan di istana merdeka.
Check soundsystem-nya itu loh.
Bukan dengan menyetel lagu-lagu perjuangan, atawa lagu-lagu mars. Lagu-lagu yang biasanya kita denger menjelang dimulainya upacara hari senin di sekolah dulu, atau menjelang dimulainya lomba-lomba warga di erwe atau kelurahan.
Bukan, bukan, mereka gak nyetel lagu-lagu kayak gitu.
Melainkan lagu-lagu dari Grup Rock Amerika!
(GEDUBRAAAAK, PAK!! KALO MEMBUKA GERBANG MUNGIL AJA MESTI IZIN, KENAPA GAMPANG BANGET NYETEL LAGU BAND ROCK AMERIKA KENCENG-KENCENG DI ISTANA?!).
x-(
- b -

NB: Beneran, swear, check sound system-nya nyetel lagu dari band-band macam ‘Simple Plan’, ‘Good Charlotte’, ‘Incubus’ gicu.

monolog: kemewahan kecil

Monday, August 8th, 2005

“Gimana rasanya makan mie instant setengah matang, yg bikinnya cuma tuang air panas ke piring berisi mie kering yang masih mentah? bumbu gak karu-karuan?”

(”Jis, makan mie setengah mateng kayak gitu bisa bikin perut moncorr tau! Kagak enak”)

“Enak, man. Enak banget, apalagi waktu bisa makan dua bungkus seperti itu.
Soale makannya di Gunungsitoli, waktu gempa hancurkan Nias.
Gak ada beras, gak ada makanan.”

“Nah, terus apa rasanya makan nasi bungkus isi ikan, kering tempe, sayur tahu dan sambel, yang makannya gak pake piring, gak pake sendok, tapi bungkusnya ditaro begitu aja di lantai?

(”Biasa aja tuh”)

Bukan lantai biasa, tapi lantai jembatan penyeberangan antara sentra mulia dan pasar festival, kuningan.

(”Makan nasi bungkus yang digelar di jembatan penyeberangan? Gila apa?”)

“Hhmm, iya sih. Tapi liat tuh si anak pengamen ini. Ritual makannya itu loh, asik banget liatnya. Karet pembungkusnya di buka hati-hati sekali. Sebelum ditaruh, lantai jembatannya di usap-usap dulu. Baru tangannya dibersihkan pake seperempat isi aqua kemasan gelas. Yakin udah bersih, baru deh bungkus nasi ditaroh, dibuka, ….mulai makan. Gak ada sendok, ….jadi pake tangan yang baru dibersihkan tadi. Kunyahannya itu loh, lamaaa…nek. Gak buru-buru ditelan. Sambil, tangan kecilnya juga aduk-aduk sambel biar rata ke nasinya. Berasa dimnaaaa gitu?”

(”Berasa di jembatan lah?”)

“Gak banget. Buktinya orang-orang yg lalu lalang dicuekin ma die. Dia berasa kayak makan di resto padang sederhana deh.”

(”Hhmm, nasi bungkusnya bener-bener diresapin ya?”)

“Bisa gak gw bilang itu sebagai kemewahan kecil?”

(”Makan mie instant setengah mateng ataw makan ngedoprak di jembatan penyeberangan, mana ada mewah-mewahnya?”)

“Ya masih bisa dibilang mewah, kok. Tapi kewemahan kecil.
“Saat segala keterbatasan meraja, ada sekelumit kenikmatan di sana, itu kemewahan kecil.
Yaa seperti cerita di gunungsitoli dan anak pengamen itu.

(”Ada yang tambahan lagi…dan kenikmatan itu gak banyak dirasakan orang yg kondisinya sama prihatinnya).

“Yap, ….tapi ada lagi yang bikin kemewahan kecil selalu ada buat kita.

(”Apaan? Bikin jembatan penyeberangan dimana-mana?”)

“Bersyukur, man. Setiap kenikmatan, kebahagiaan, kesejahteraan, kesehatan, yg dateng ke kita.”