Gak punya hati
Jakarta, 25 Agustus 2005
Trotoar sebelah Pusat Kebudayaan India di perempatan ujung jalan
menteng dan rasuna said ini memang selalu ramai penunggu bus di waktu
sore.
Tapi Ibu muda depan ku ini cuek saja duduk di atas trotoar. Kakinya dijulurkan ke atas aspal. Sama sekali tak pedulikan pandangan orang-orang di belakangnya.
Dia bukannya gak waras. Dia pengemis, gembel.
Tapi melihat dirinya, tak ada rasa simpati sedikitpun yang keluar.
Lihat saja. Dia muda, dan kuyakin masih kuat untuk terima cucian buat dapetin uang upah nyuci.
Dan itu liat, anak perempuannya kelayapan hilir mudik di atas trotoar sambil bawa sebatang rokok buat emaknya, si ibu muda itu. Umur nya paling tiga tahun. Tapi emang udah pinter diri. Tapi bukan berarti bisa disuruh-suruh kayak kacung , bukan?
"Nah sini, sini!! Bawain sini itu rokoknyaaaa!" suaranya cempreng, menyebalkan.
"Nah gituuu, pinterrr banget anak gua ini yak !!" bangga banget. Gak jelas, bangga sama anaknya yang bisa bawain dia rokok atau bangga sama dirinya krn perintahnya sukses.
Kuliat para penunggu bus yang lain, juga sedang memperhatikan tingkah si ibu muda gembel itu. Gila banget ini ibu dalam hatiku.
("Itu kan anak loe!
Bukan anjing peliaraan!
Bukan kacung kudis kurap!
Itu anak masih kecil umur tiga tahun, perempuan edan!!) umpat ku membatin.
Jadi kenapa harus takut mengumpat dia , walau cuma dalam hati?
Karena rasa simpati pun jauh dari pantas buat dia.
Ibu tak punya hati!
Apa menjadi miskin boleh tak punya hati?
Apa hidup di jalanan boleh selalu menjadi barbar?
Yang betul, orang barbar macam dia kalo mati masuk neraka.