Istana Merdeka
Jakarta, 16 Agustus 2005
Hari ini Istana Merdeka sebuk skale’. Maklum saja, esok harinya adalah perayaan sakral tujuh belasan. Tahun ini Indonesia genap enampuluh tahun.
Besok komplek istana bakal kedatangan bejibun undangan penting. Nah, ini hari terakhir persiapan buat acara esok. Semua yang terlibat dalam solek menyolek istana hilir mudik. Ada tukang kembang, tukang sewa tenda kursi, jasa katering, petugas kebersihan, grup kesenian daerah, pasukan marching band, termasuk kita para kuli broadcast, yang berebut tempat bagus buat menyiarkan langsung upacara besok pagi.
Paspampres dibuat pusing, penjagaan pun semakin ketit (superlative dari ketat). Dengan banyak macem orang diatas plus pe-nekat-pe-nekat yang spekulatif coba masuk komplek istana dengan jeans, atau tanpa id, bisa dimaklumi kalo muke mereka bak ‘dunia lain’ (maksudnya angker gicu..). Lebih-lebih, sang presiden juga bertempat tinggal di komplek istana. Itu berarti keamanan beliau nomor satu. ‘Keamanan’ means akses orang lain terbatas. Artinya, mau narik kabel kek, mau pasang tripod, kek kudu bilang dulu sama tiap personil paspampres yang kita temui. Maklum aja, banyak daerah yang kudu steril (berkaitan dengan keamanan presiden) dan daerah yang sakral (berkaitan ama apa ya ini? ‘dunia lain’? bukan kale!).
Soal daerah sakral, gerbang depan istana adalah salah satunya. Gerbang itu selalu dalam posisi tertutup. Tapi bagaimana kalo kita mau tarik kabel dari dalam halaman istana ke kamera yang jaraknya cuma berapa centi diluar pager? Gerbang sakral itu bukan cuma jalan paling pintas, tapi juga paling logis.
"Wah, mas tanyakan saja langsung ke komandan saya. Tu..yang disana." perintah sang paspampres sambil menunjuk komandannya yang berjarak 50 meter.
"Selamat siang, Pak. Ini…kami mau tarik kabel keluar. Tapi paling deket lewat gerbang depan itu tu, Pak. Bole gak kami izin, buka sebentar gerbangnya?" dengan suara pelan namun jelas, sekaligus cemas.
"Wah, jangan lewat disitu, dik. Itu gerbang ditutup.
Adik bisa jalan memutar ke arah sana…."
Sambil tangannya menunjuk ke suatu arah, dekat gerbang yang kami maksud.
Bersamaan dengan itu, di depan kami ada pemandangan sebagai berikut, dimana salah satu camera person kita berjalan dengan pasti menghampiri gerbang, sambil tangan kanannya menenteng untaian kabel yang sudah terjulur panjang dari pusatnya. Tenang dan pasti, tanpa peduli dengan keselamatan jiwa dan rasa malu teman-teman lainnya, ia pun membuka gerbang sakral itu, keluar, dan menutupnya kembali. Ringan sekali, bak bayi tanpa dosa.
"…Atau bisa lewat……." kata sang komandan tertahan sambil melihat apa yang dilakukan si jagoan berani mati itu.
"….yaaa lewat situ juga bisa. Itu gerbangnya gak dikunci, kan?"
(GEDUBRAAAKK..!!!)
Selain itu ada satu yang aneh dengan persiapan tujuhbelasan di istana merdeka.
Check soundsystem-nya itu loh.
Bukan dengan menyetel lagu-lagu perjuangan, atawa lagu-lagu mars. Lagu-lagu yang biasanya kita denger menjelang dimulainya upacara hari senin di sekolah dulu, atau menjelang dimulainya lomba-lomba warga di erwe atau kelurahan.
Bukan, bukan, mereka gak nyetel lagu-lagu kayak gitu.
Melainkan lagu-lagu dari Grup Rock Amerika!
(GEDUBRAAAAK, PAK!! KALO MEMBUKA GERBANG MUNGIL AJA MESTI IZIN, KENAPA GAMPANG BANGET NYETEL LAGU BAND ROCK AMERIKA KENCENG-KENCENG DI ISTANA?!). x-(
- b -
NB: Beneran, swear, check sound system-nya nyetel lagu dari band-band macam ‘Simple Plan’, ‘Good Charlotte’, ‘Incubus’ gicu.
April 9th, 2007 at 7:34 pm
Huahahahahaha… GILA!!