Fiksi: Mulut Besar
Thursday, August 31st, 2006Sultan, fotografer narsis, di sebuah majalah laki-laki, kembali berkoar. Ia mengaku baru saja meniduri Amel, seorang model yang ia foto untuk halaman tengah majalahnya.
"….itu anak baru kenal gue dua hari lalu di sesi foto . Tau-tau kita jadi deket. Kayaknya dia kepincut ‘ma gue. Malah sering curhat. Terus kita jadi sering jalan bareng gitu deh. Malah dia yang ngajak gue untuk nginep di kostnya semalam." cerita Sultan.
Temen-temen lamanya paling tau gaya Sultan yang lagi ‘lebih’ begini. Mereka sih cuma diem aja.
Atau kalo ada kesempatan, segera cari topik lain. Tapi yang kasian adalah anak-anak baru. Dibebani beban moral untuk menghormati seniornya, para lulusan kuliah ini kayak kambing conge’. Mereka juga bingung harus merespons apa. Salut, takjub atau gak percaya? Yang jelas gak ada yang berani keluar dari obrolan. Cerita-cerita begini emang paling digemari Sultan. Dan anak-anak baru selalu menjadi pendengarnya yang baik.
Sampai suatu saat, Sultan berubah. Mulut bau nya tak lagi banyak bacot. Bukan sariawan yang membuatnya lebih banyak diam. Bukan pula sakit badan yang datang di musim kemarau. Tapi karena sebuah berita aib tentang dirinya. Entah dari mana asalnya, beredar berita kalo Sultan ber titit kecil. Sultan cuma ingat, minggu lalu ia pipis bersama empat orang di toilet kantor. Mereka bersebelahan, mengencingi urinernya masing-masing. Sultan curiga, orang disebelah kanan dan kirinya lah yang memergoki barang kecilnya itu. Berita itu beredar luas di kantornya, terutama di kalangan anak baru. Tak heran, setiap kali Sultan berkoar ke anak baru, banyak yang memberi respons meledek. Walau tak mengarah langsung kepadanya, banyak yang menimpali cerita nya dengan lelucon soal penis kecil. Ia merasa tersindir. Parahnya lagi, kabar tentang ‘titit’- nya yang kecil itu juga terdengar sampai kuping model-model perempuan yang di foto Sultan.
Kini mulut Sultan, lebih kecil. Sepertinya mengkerut, hingga tak lagi bisa menganga. Habis sudah, pikir Sultan. Apa lagi yang bisa diumbarnya? Seorang fotografer? Tak lagi, karena ia sekarang fotografer dekil, tak punya teman, dan ber titit kecil.
Tragis.



Masak sebotol ‘Mizone’ dia jual seharga limaribu?