DUA ORANG TANGGUH
Jakarta, 30 Agustus 2006
Semalam ada 2 orang "tangguh" yang saya temui di bus. Yang pertama, seorang tunanetra. Yang kedua, seorang cacat berkaki satu.
Si tunanetra orang yang tangguh, seorang diri dia naik ke bis yang kecepatannya gak karuan. Belum lagi kalo ngerem mendadak, badan orang di dalamnya bisa berguncang hebat. Tapi si buta tak jatuh. Setelah melipat tongkat alumuniumnya, dia keluarkan gitarnya dari sarung penutup. Hebat, semua gerakan itu dia kerjakan saat badan terguncang akibat kecepatan bis. Terlebih karena dia tak bisa melihat. Tak sampai di situ. Si buta lalu berjalan ke bagian depan. Setelah memberi salam, ia mulai ngamen. Suaranya tidak merdu. Tapi juga tidak asal. Dan jauh lebih bagus dibanding banyak pengamen (ibu-ibu muda yang bawa bayi sewaan, remaja tanggung yang nyari duit buat mabok, atau bocah yang disuruh sama ‘bos’ gembelnya - paling sebel kalo pake instrumen asal-asalan macam ‘krop’ minuman atau tepukan tangan sekedarnya). Dia pakai gitar, dia nyanyi lagunya Ebiet. Hebat, terlebih karena dia tak bisa melihat.
Di sebelah saya duduk seorang yang tak kalah tangguh. Tua, lusuh dan berkaki satu. Uban menghias di rambut, kumis dan janggutnya. Dia tidak seperti si buta yang ber ‘akrobatik’ dalam bus yang berjalan gak keruan. Dia duduk persis disamping jendela bersama dengan tongkat kayunya. Si buntung orang yang tangguh. Dia tidak mengemis. Dia bayar ongkos bus seharga 2 ribu perak. Hebat, terlebih karena dia cacat, bisa saja dia mengemis.
Ada yang masih saya tunggu dari "si dua tangguh" ini. Bagaimana cara mereka turun dari bus edan yang sedang kita tumpangi. Kesempatan itu datang. Malah mereka turun bersamaan, jadi bisa liat keduanya sekaligus. Si buntung turun dari depan si buta turun dari belakang. Seperti saat mereka naik, turun pun mereka layaknya orang normal, tanpa bantuan orang lain. Hebat, terlebih karena cacat. Terimakasih sudah bertemu anda berdua. Semoga Tuhan menguatkan hati anda untuk tetap tangguh.
September 15th, 2006 at 11:09 pm
wah, mas bayu. Hari gini, jarang ada orang yang mau memperhatikan sekitarnya. Sekedar mendoakan orang-orang yang bekerja mencari nafkah yang halal… *kampai*