Penghidupan
Kerjanya menambal ban. Seingat saya sejak sekolah dasar dia sudah bantu ibunya menambal ban. Juga adik-adiknya.
Mereka bekerja keras, ulet, tangguh, tak perlu malu. Khas perantau dari tanah batak. Kiosnya sederhana, bak berisi air terbuat dari ban bekas, satu kompresor dan perkakas sedang dan kecil.
Dan kini lebih 20 tahun lebih, dia masih menambal ban. Tapi tak lagi bersama si ibu.
Kerasnya hidup tak memudarkan sopan santun.
Ia memanggil "pak", mengucapkan "terima kasih", dan tersenyum.
Tulus, ucapan dan bahasa tubuhnya.
Kios sederhana itu memberinya penghidupan dan pelajaran menghargai pelanggan.
Dashyat.
April 30th, 2007 at 6:15 pm
Maksud lo tukang tamban bal yg deket jalan tembok ya Bud?
Gue jg kenal dengan mereka, ibunya sudah tua (uzur) sekarang makanya ga pernah nongol lagi. Mereka ada 3 bersaudara laki2, dan yg nomor dua (biasa dipanggil si “keriting”) sudah almarhum Januari 2006 karena narkoba. Tinggal skr yg abangan sm yg bungsu.